Kedai 1001 Mimpi: Kisah Nyata Seorang Penulis yang Menjadi TKI

Buku ini tadinya tidak ada dalam wishlist books saya. Beberapa kali melihatnya di rak Buku Gramedia, saya tidak tertarik. Sampai akhirnya, beberapa bulan lalu saat saya ke Gramedia Mall Ratu Indah Makassar, yang saat itu sedang direnovasi sehingga keadaannya begitu berantakan, buku tersebar di mana-mana, dan saya melihatnya di tumpukan novel, mengambilnya, membaca beberapa lembar, dan akhirnya membelinya.

ImageBuku ini berkisah tentang kehidupan seorang penulis, Valiant Budi, yang punya cita2 unik, jadi TKI di negara2 Timur Tengah!! Unik bukan? Panjang cerita, ia berhasil mendapatkan pekerjaan sebagai barista di sebuah cabang kedai kopi internasional di kota Dammam, Arab Saudi.

Dan cerita pun dimulai…

Hidup di negara Arab ternyata tidak seindah yang ada di benaknya. Banyak hal baru dan gegar budaya yang ia temui. Mulai dari cuaca yang ekstrem, disangka “Pinoy” (red. Phillippine man), diajak “maen” sama om2 genit, pengendara jalan yang brutal bin anarkis, hukum dan peraturan yang begitu “syariah” dan berbeda dengan yang ada di Indonesia, pesta-pesta liar, juga kisahnya bertemu dan bersahabat dengan para TKI lainnya di kota Dammam. Valiant Budi juga mengisahkan pertemuannya dengan seorang imam masjid yang begitu mengayomi dan meneduhkan, dan tentu saja seluk beluk pekerjaannya yang ternyata jauh berbeda dengan yang ia bayangkan saat di Indonesia.

Setelah tak berapa lama berhasil menuntaskan cita-cita uniknya itu, Valiant justru berjuang untuk segera mengakhirinya dan kembali ke Indonesia.

Banyak kejutan yang saya dapat saat membaca buku ini yang dituliskan dalam bahasa yang lebay abis, sehingga keadaan yang sebenarnya ironis jadi tampak absurd pada akhirnya, dan pastinya bikin saya ngakak. Dan setiap kali mengetahui hal baru darinya, saya berkata dalam hati, “Oooh, ya ampun begitu ya…” atau hanya “Alamakkk,….?!*$%&^%”

Kalo saya bilang, buku ini semacam Arabian Undercover. Banyak menyibak hal2 tentang Arab yang ternyata berlawanan dengan apa yang ada dalam stigma saya atau stigma sebagian besar orang tentang nya.

Tanpa ingin mendiskreditkan Islam, penulis hanya ingin mengungkapkan sisi lain kehidupan Arab, bukan kehidupan Islam. Karena Islam dan Arab adalah dua hal yang berbeda.

Dan sepenggal perkataan seorang Imam Masjid yang pernah menolong penulis, saat ia mempertanyakan mengapa hanya sedikit orang-orang baik tersisa di negara itu, Sang Imam Pun menjawab:
“…Dulu Islam terkenal denan para ilmuwan dan penemuannya, sekarang lebih sering disebut dalam berita teroris dan kelakuan bejat bangsanya. Kalau boleh mengutip perkataan Rasulullah SAW, Islam memang dimulai dalam keadaan asing dan akan kembali asing sebagaimana awalnya.”

Sebaiknya, orang-orang yang berniat bekerja di Arab sana, membaca buku ini agar mendapat gambaran dunia yang akan mereka masuki, dan syukur2 dapat berpikir ulang untuk melanjutkan niatnya tersebut.

“Maaf, tapi di negara miskin saya itu, saya lebih banyak tersenyum. Tak terbeli dengan ribuan riyal. Lagi pula, semua kebusukan negara saya, Indonesia, ada di negara lain, kok. Tapi keindahan Indonesia belum tentu dimiliki negara lain.” -Valiant Budi-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s