River’s Note: Catatan Tentang Cinta, Harapan, dan Anugrah Kehidupan

Image

”River, sejak kutahu kau akan lahir ke dunia, aku mencoba mengingat kembali pelajaran-pelajaran kecil, tetapi berharga, yang mungkin tercecer atau terlupa. Kutemukan semua dari hal luar biasa sampai yang sederhana.  Lalu kusiapkan semua kisah ini untukmu agar kau bisa mengingatnya sebagai pelajaran hidup.” Fauzan Mukrim-River’s Note.

River’s Note adalah buku kedua Fauzan Mukrim (Bang Ochan), seorang karyawan seolah-olah jurnalis (begitu ia menyebutnya) yang berisi cerita dan hal-hal tentang kehidupan. Awalnya ia ingin menghadiahkan tulisannya kepada calon anaknya, River. Maka ia pun mulai menulis di blog, bahkan sebelum River lahir. Isinya aneka rupa, kebanyakan berisi hal-hal kecil tentang kehidupan dan memaknai hidup. Beberapa bercerita tentang masa kecilnya, hubungan anak-orangtua, sampai keadaan politik Indonesia.

Saya suka gaya bahasanya. Mungkin karena seolah-olah ia sedang bercerita dengan River, ia tak terkesan menggurui dalam menyampaikan pandangan nya. Tulisannya ringan dan mudah dipahami, tapi pesannya tersampaikan. Banyak hal-hal kecil yang baru saya tau atau baru saya sadari saat membaca buku ini. Seolah-olah ada si presenter jail yang nunjuk ke saya sambil bilang, “upsss kena deh!”

Misalnya dalam bab Mengetes Tuhan: “Lalu dimana arti keikhlasan jika akhirnya orang bersedekan dengan mengharapkan balasan?”.

“…dimana-mana manusia itu sama saja, terdiri dari darah dan daging seperti kita. Keikhlasanlah yang membuatnya berbeda.”

Sudahkah Anda ikhlas saat bersedekah? Karena ingin balasan yang lebih besar, disanjung orang lain, atau memang niat membantu. Saat masih kuliah dulu, saya lumayan sering ikut seminar wirausaha. Dan ada seorang pengisi acara yang selalu bercerita bahwa dia berhasil mendapat order besar setelah sedekah, dapat rejeki nomplok setelah menyantuni anak yatim, blahblahblah. Oke, seketika saya ilfil dengan si pengusaha itu. Absurd. Lalu, untuk apa ia bersedekah? Wallahuallam.

Lalu, di Bab Sudut Pandang, dia bercerita tentang Butet Manurung (everybody knows her, right?!). Suatu hari saat mengajar Orang Rimba, Butet ingin mengumpulkan pekerjaan anak muridnya. Maka ia pun meminta anak muridnya mengumpulkan tugas tersebut. Tanpa disangka-sangka, seorang murid melemparkan bukunya ke hadapan Butet. Guru mana yang tak ingin marah melihat perilaku seperti itu. Tapi Butet menahannya, sambil bertanya kenapa muridnya itu melempar bukunya. Sang murid menjawab, agar cepat sampai dan bu Guru tak perlu menunggu lama karena ia duduk di barisan paling belakang. Inilah soal sudut pandang. Kadang kita melihat sesuatu hanya dari kacamata kita sendiri tanpa mempertimbangkan sudut pandang dari orang lain. What a lesson!

Bang Ochan juga menulis tentang kaum alay. Fenomena kaum alay memang sedang menyeruak akhir-akhir ini. Banyak yang mencibir, dan merasa jijik. Tapi siapa sangka kalau menjadi alay juga merupakan sebuah profesi. Bukan tanpa alasan. Karena untuk menjadi alay, mencari-nari di acara live music sambil berpakaian ala Kpop itu mereka punya alasan: mencari rezeki. Semoga mengubah pandangan kita terhadap mereka yang kita sebut alay.

“Lalu, apa arti bahagia tanpa melibatkan orang lain? Atau hewan lain? Jangan dijawab. Ini pertanyaan naïf.” Fauzan Mukrim –River’s Note.

Masih banyak kisah-kisah inspiratif lainnya di buku ini. I give 5 stars out of 5! hehe. Happy Reading!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s