Sigofi Ngolo: Sebuah Persembahan Rakyat Jailolo

Kamis pagi, 17 Mei 2012, sekitar pukul 9.00 WIT kapal-kapal yang biasa digunakan melaut pagi itu tampak berbeda: cerah oleh hiasan janur dan warna warni bendera serta umbul-umbul bertuliskan Festival Teluk Jailolo 2012 serta ada beberapa iklan layanan masyarakat seperti iklan KB.

Image
Kapal-Kapal Nelayan Siap Menyemarakkan Sigofi Ngolo

Saya sudah siap di dermaga menunggu mulainya Ritual Sigofi Ngolo dimulai. Sigofi Ngolo yaitu semacam adat masyarakat setempat untuk memberikan sesembahan kepada alam khususnya laut. Para pengunjung bisa bergabung dengan masyarakat lokal di perahu-perahu yang akan berangkat ritual. Sambil menunggu Sultan Jailolo dan undangan yang akan memimpin ritual Sigofi Ngolo tersebut, beberapa warga mengajak “meronggeng” alias menari diiringi musik khas Maluku. Meriah sekali! Para pengunjung yang awalnya malu-malu (termasuk saya) akhirnya ikut juga menari bersama. Waktu itu, tangan saya tiba-tiba saja ditarik ikut kedalam barisan orang-orang yang sedang menari. Kapan lagi bisa menari bersama di tepi laut seperti itu. Hahaha.

Image
Mari Bernyanyi

Oya, pengunjung FTJ ini kebanyakan adalah fotografer, diver, dan wartawan dari Jakarta, sehingga saya pun akhirnya disangka wartawan juga. Gara-garanya saya nenteng2 kamera DSLR kemana-mana. Setiap orang yang menanyakan darimana saya berasal, pasti mengira kalau saya ini wartawan.Wkwkkkk. Waktu saya bilang kalau saya ini cuma pelancong biasa, ehhh mereka nya yang ngeyel. Mereka bilang saya ini pasti wartawan karena saya bawa2 kamera besar (menurut mereka), padahal kamera saya cuma DSLR entry level biasa, yang anak SD juga bisa pake.hahaha. Gapapalah, kapan lagi bisa disangka wartawan dari Jakarta. 😛 

Setelah menunggu sambil panas2an, akhirnya panitia mengumumkan bahwa Ritual Sigofi Ngolo akan segera dimulai dan para pengunjung bisa ikut ke dalam kapal-kapal nelayan. Saya pun langsung meloncat mencari kapal yang masih kosong. Suara perkusi terdengar beralu-talu dari setiap kapal ditambah dengan pemandangan gunung Manyasal di Jailolo sana yang indah berpadu dengan birunya lautan. Meriahhhh!

Image

Image
I love the view! Gunung Manyasal tampak di belakang.

Kami akan menuju Pulau Buabua, pulau kecil di depan Jailolo tempat ritual akan dilaksanakan. Rencananya Sultan Jailolo akan turun untuk mempersembahkan bunga dan sesajen di Pulau Buabua. Tetapi, di tengah perjalanan, entah kenapa, terjadi perubahan rencana. Sultan Jailolo tidak jadi turun ke Pulau Buabua tetapi hanya mengelilingi pulau saja sambil menabur bunga di laut.

Setelah kapal yang ditumpangi Sultan selesai menabur bunga di sekeliling Pulau Buabua, para rombongan pun segera kembali ke Jailolo. Cuaca siang itu sangat panas dan menyengat. Tapi tak menyurutkan semangat kami untuk mengikuti acara tersebut. Kemeriahan masih tetap berlanjut, suara musik belum berhenti, apalagi tidak berapa lama akan segera dimulai Festival Bakar Ikan sepanjang 6 km! Seruuu!!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s