Rammang-Rammang : Merasakan Jejak Jaman Batu

Pantai Losari dan Fort Rotterdam. siapa yang tak tahu kedua destinasi yang menjadi landmark kota Makassar ini. Tapi, siapa bilang Makassar tak punya destinasi lain yang tak kalah menarik.

Rammang-Rammang. Begitu masyarakat  lokal menamakan daerah itu. Letaknya sebenarnya bukan di dalam kota Makassar, tapi di jalan Poros Makassar-Toraja tepatnya di Kab. Maros atau sekitar 1 jam dengan kendaraan bermotor.

Rammang-Rammang atau juga biasa disebut Karst Maros adalah satu gugusan pegunungan karst yang terletak di Kabupaten Maros dan Pangkep, masih satu kompleks dengan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung dan konon katanya menjadi yang terbesar ke dua setelah pegunungan karst serupa yang berada di China!

Saya mengunjunginya dua kali, pada bulan Oktober 2011 dan Juni 2012. Saat pertama kali ke Rammang-Rammang, hanya berbekal ulasan dari sebuah majalah backpacker saya mengajak teman-teman yang kesemuanya bukan orang Makassar mencari Rammang-Rammang.

Saat itu mungkin Rammang-Rammang belum sepopuler sekarang. Saya bertanya ke teman-teman kantor, tidak ada yang tahu. Tapi saya terlanjur  tergoda oleh kecantikannya, pegunungan batu berpadu dengan hijaunya pepohonan dan air sungai yang kehijauan. What a view!

Image
                                                                Sungai, Karst, Nipah!

Berangkatlah kami bertujuh dengan menyewa mobil Avanza. Kalau dari arah Makassar, berjalanlah menuju arah Jl. Poros-Toraja, atau kab. Maros kurang lebih 40-60 menit sampai kita bertemu Gerbang Semen Bosowa di kanan jalan, tepatnya di desa Salengrang lalu masuk ke dalam jalan desa kurang lebih beberapa ratus meter. Sampailah kami ke sebuah spot yang sama dengan potret yang ada di majalah. Rasanya, luar biasa! Lanskap gunung batu berpadu dengan hijaunya sungai sungguh menyejukkan mata.

Oktober 2011 bertepatan dengan musim kemarau, sehingga hanya tersisa pemandangan pohon padi menguning. Tapi, Juni 2012 bertepatan dengan musim tanam! Sawah menghijau menjadi latar pegunungan batu. Perfect!

Image
Rammang-Rammang Saat Musim kemarau
Image
Rammang-Rammang Saat Musim Hujan

Jika dilihat sepintas, bukit batu Rammang-Rammang serupa dengan Batu Hangus yang ada di Ternate. Bedanya, kalau Batu Hangus terletak di tepi laut (nggak kalah cantik!) dan batu-batu hitamnya berserakan begitu saja, Rammang-Rammang justru membentuk kompleks tebing batu yang panjang.

Dua kali ke Rammang-Rammang saya belum berkesempatan menyusuri sungai menggunakan perahu. Aaah padahal pasti lebih seru! Tapi, selain pegunungan batu disekitar Rammang-Rammang juga terdapat banyak gua prasejarah. Saya sempat masuk ke dalam salah satu gua yang didalamnya terdapat lukisan telapak tangan manusia purba, sehingga dinamai Gua Telapak Tangan. Saya jadi membayangkan, entah berapa juta tahun lalu, sekelompok manusia hidup di gua ini, berburu dan meramu serta berlindung dari kejaran T-rex! Seru!

Image
Pose! It’s a must!

Jarak Gua Telapak Tangan cukup jauh, sekitar 30 menit berjalan kaki melewati pematang sawah dan kotoran-kotoran sapi! Seru sekali, sambil menahan capek dan mengelap keringat kami juga masih harus waspada supaya tidak menginjak ranjau-ranjau alami tersebut!

Image
Goa Telapak Tangan
Image
Lihat, telapak tangan siapa di situ!
Image
Sunset di Rammang-Rammang

Jadi, mari ke Rammang-Rammang dan rasakan sensasi jaman batu! Atau bayangkan saja sedang bertamu ke rumah Kera Sakti! Enjoy!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s