Manado si Bumi Kawanua

“Hi, Rosa,”, ingat sekali, itu kalimat pertamaku menyapa gadis ramah di depanku saat itu.

« Zantika » jawabnya singkat. « Kita naik motor gakpapa ya. » Singkat cerita meluncurlah kami menuju rumahnya di luar kota Manado saat matahari diatas bumi Minahasa itu semakin surut.

Awal Februari lalu, aku berkunjung ke Manado setelah tugas kantor ke Halmahera Timur. Berhubung pesawat untuk kembali ke Makassar transit di Manado, langsung deh otak ku berpikir untuk mampir di Manado beberapa hari. Hehe.

Manado di awal Februari kemarin adalah yang pertama dan akan menjadi solo travelling pertamaku juga. Tak ada teman, tempat yang benar2 baru, dan pengetahuan minim tentang bumi Kawanua itu membuatku sedikit ragu untuk menjelajah Manado. Akhirnya aku putuskan untuk membuka laman bagi traveler http://www.couchsurfing.org untuk mencari host yang mungkin bisa menampungku atau  memberikan info Manado dari perspektif orang lokal. Pencarianku akhirnya membawaku ke sebuah profil yang akhirnya menjadi host-ku di Manado: Zantika.

Sebelum ke Manado, dalam pikiranku Manado itu horror. Karena yang paling aku tau tentang Manado adalah orang-orangnya yang pemakan segala (memang sebagian orang Manado pemakan segala dari babi, anjing, kucing, kelelawar, tikus, ular –sebut saja nama hewan yang kamu tau) dan reputasi orang-orangnya yang suka “minum” dengan andalan mereka minuman berlabel “Cap Tikus”. Makanya, hampir diseluruh penjuru kota banyak sekali tulisan “Brenti Jo Bagate” yang disampaikan oleh Kepolisian setempat, artinya kurang lebih “Oi, brenti mabok donk Lo”.

Tapi, ternyata Manado itu penuh dengan keramahan. Walaupun tampak keras (ciri khas Timur Indonesia) tapi mereka ramah-ramah dan cukup helpful, lho. Beberapa hari tinggal dengan keluarga Zantika [ ada Tante Ros, Om Robby, dan Awan] juga mengubah pandangan liarku tentang Manado. Mereka senang sekali ngobrol makanya banyak hal baru yang akhirnya aku tau tentang Manado—orang-orang Manado, budayanya, makanannya, tempat-tempat yang menarik, dll. Aku juga senang sekali bercerita tentang kampung halamanku, tentang Makassar, dan tentang semua yang ingin mereka tau.

“Apa artinya bumi Kawanua?”, aku bertanya tentang julukan kota Manado itu karena dimana-mana tertulis julukan itu.

“Kurang lebih artinya, semua yang dari Manado itu bersaudara.”, jawabnya singkat.

Oh, mengertilah saya kenapa jarang sekali ada bentrok SARA di kota ini. Padahal penduduk disini sangat beragam baik dari etnis maupun agama, dengan sebagian besar dari penduduknya beragama Nasrani. Bahkan katanya, saat Natal tiba, orang-orang muslimlah yang menjaga gereja, sedangkan saat Idul Fitri tiba giliran orang Nasrani yang menjaga masjid. Harmoni yang indah bukan…

Pada akhirnya, meninggalkan Manado siang itu sama beratnya seperti meninggalkan keluarga. Mereka yang awalnya benar-benar asing, berubah menjadi teman dan keluarga hanya dalam hitungan hari. Mungkin terdengar sedikit lebay, tapi ya memang seperti itu rasanya. Coba saja kalau berani. Datanglah dengan pikiran terbuka, singkirkan sejenak ke’aku”an mu, tinggalkan sebentar status dan kedudukanmu, bergabunglah dengan mereka.

“Berbicaralah seperti orang Padang, berpikirlah seperti orang Batak, bekerjalah seperti orang Jawa, dan makanlah seperti orang Manado—maka kau akan punya hidup yang bahagia.” –Om Robby–

Image
Manado Tua- sisi lain keindahan Manado
Advertisements

2 thoughts on “Manado si Bumi Kawanua

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s