Mengikuti Sebagian Prosesi Rambu Solo’ di Tana Toraja

Saya bilang sebagian prosesi Rambu Solo’ karena saya memang hanya menyaksikan beberapa bagian saja. Jadi hanya sebagian yang sudah saya saksikan itu yang bisa ceritakan, sisanya akan saya tulis kalau sudah saya saksikan secara langsung. hehe.

Adu Kerbau (Mapasilaga Tedong)

Kalau adu ayam atau karapan sapi itu sudah lumrah, mari kita saksikan Mapasilaga Tedong. Saya bilang Rambu Solo’ itu identik dengan kerbau. Jadi akan ada banyak prosesi yang melibatkan kerbau-kerbau ini, salah satunya adalah adu kerbau atau mapasilaga tedong ini. Sepasang kerbau akan dipertemukan di tanah lapang yang luas kemudian dipancing agar mereka melawan satu sama lain. Sebelum diturunkan ke arena aduan, kerbau- kerbau ini akan diberikan ramuan jejamuan oleh si empunya untuk menambah keperkasaannya.

Ukiran Mapasilagan Tedong di salah satu rumah Tongkonan
Ukiran Mapasilagan Tedong di salah satu rumah Tongkonan

Katanya, semakin sering menang dalam adu kerbau, maka harga seekor kerbau ini akan melonjak naik. Karena itu, setiap pemilik kerbau pasti akan sangat antusias mengikutsertakan kerbau- kerbau mereka dalam adu kerbau. Jangan bayangkan kerbau di sini seperti kerbau di Jawa yang biasa dipakai untuk bajak sawah, Kerbau versi Toraja itu seperti banteng, badannya gede banget, tanduknya panjang, bulunya lebat.

Kami para penonton sangat antusias menyaksikan adu kerbau ini, berharap akan ada suatu pertandingan yang seru (semoga saya nggak dosa, amin). Tapi ya namanya kerbau, bukannya mereka bertarung dengan gagahnya, eh malah elus-elusan, cium-ciuman, trus berkubang di lumpur. Doh! Pihak panitia nggak agak tengsin langsung menurunkan kerbau- kerbau yang lain. Eh, sama juga tuh, kerbaunya malah malu- malu gelendotan sama si pawang nggak mau maju ketemu lawannya. Haha. Baru setelah beberapa pasang kerbau turun, suasana memanas dan sepasang kerbau di arena mulai beradu tanduk seperti sedang saling memancing emosi. Tapi, eh, udah gitu aja, terus kerbaunya melengos pergi. Doh.

Adu kerbau/ Mapasilaga tedong - Tana Toraja. Photo by Wirya Saputra
Adu kerbau/ Mapasilaga tedong – Tana Toraja. Photo by Wirya Saputra

Penyembelihan Kerbau (Mangrara/ Matinggoro Tedong)

Salah satu bagian wajib yang dilaksanakan dalam sebuah pesta Kematian Rambu Solo’ adalah penyembelihan kerbau. Teman saya yang asli Toraja menyebutnya “mangrara” yang artinya menyembelih. Tetapi di internet saya juga menemukan istilah “matinggoro tedong” yang juga berarti menyembelih kerbau. Tedong adalah bahasa Toraja dari kerbau.

Sebenarnya, adu kerbau juga biasa dilaksanakan sebelum kerbau disembelih untuk Rambu Solo’. Jumlah kerbau yang disembelih untuk Rambu Solo’ bervariasi, untuk kalangan ningrat Toraja bisa mencapai puluhan atau ratusan. Dari sekian banyak kerbau yang disembelih itu, ada satu jenis kerbau special yang bernama “Tedong Bonga” atau kerbau belang. Jangan tanya harganya, saya merinding membayangkan seekor kerbau seharga rumah mewah atau sawah sehektar. Tedong bonga ini konon cuma ada di daerah Toraja dan Masamba saja.

Tedong Bonga seharga sawah sehektar
Tedong Bonga seharga sawah sehektar. Photo by: Sarsongko

Sebelum disembelih akan ada proses penyerahan kerbau dari pihak penyumbang kepada keluarga yang menyelenggarakan pesta. Tetapi semua menggunakan bahasa Toraja. I was lost in translation.

Sebelum disembelih
Sebelum disembelih

Saya ingin cerita bagaimana mereka menyembelih kerbau ini. Cara memotongnya sedikit berbeda (maaf- kalau tidak mau dibilang sadis) dengan penyembelihan hewan kurban. Kerbau yang diikat tali dibiarkan berdiri kemudian si penjagal akan menebas lehernya dengan sekali tebasan. Jika, belum cukup ditambah dengan satu atau dua kali tebasan lagi. Darah mulai mengucur ke tanah, tapi beberapa kerbau masih lincah bergerak bahkan ada yang berlari sampai jatuh ke jurang. Baru beberapa menit kemudian, dia mati sempurna.

Proses penyembelihan kerbau. Photo by Sarsongko.
Proses penyembelihan kerbau. Photo by Sarsongko.
Photo by: Sarsongko
Photo by: Sarsongko
I'm done. Kata si Tukang Jagal. Photo by Sarsongko.
I’m done. Kata si Tukang Jagal. Photo by Sarsongko.

Satu per satu kerbau disembelih sampai kerbau ke tiga atau ke empat. Kemudian suasana mulai hectic, kerbau dimana – mana, orang – orang berebut menyaksikan, mengambil foto dan video, tiba- tiba mulai terdengar teriakan sahut- menyahut- yang disebut “meoli” dari berbagai arah. Seketika saya merinding, dan kerbau- kerbau yang masih hidup disembelih dalam waktu bersamaan. Suasana jadi tambah kacau selama beberapa menit kemudian. Darah kental tercecer dimana – mana menyisakan bau anyir. Matinggoro tedong telah selesai.

Aliran darah kerbau. Phot by Sarsongko.
Aliran darah kerbau. Phot by Sarsongko.
Membagi Daing Kerbau. Photo by Sarsongko
Membagi Daing Kerbau. Photo by Sarsongko

Setelah kerbau- kerbau itu mati, akan segera dikuliti dan dagingnya dibagikan kepada para tamu dan keluarga. Tanduknya disimpan untuk dekorasi Tongkonan.

Musik Menumbuk Lesung dan Tarian Ma’badong

Selama pesta Rambu Solo’ ini juga tidak luput dari acara berbau musik dan nyanyian. Yang pertama adalah ‘Ma’badong’, para penari yang berpakaian hitam- hitam saling mengaitkan tangan membentuk lingkaran besar lalu menyanyikan syair dalam bahasa Toraja. Walaupun nggak tau arti nyanyiannya, saya tetap merinding mendengarnya.

Menunggu. Photo by Wirya
Menunggu. Photo by Wirya
Ma'badong. Photo by Sarsongko
Ma’badong. Photo by Sarsongko

Yang kedua, sekelompok ibu- ibu yang menumbuk lesung padi bersama- sama sehingga menghasilkan nada nada yang indah dan teratur. Saya malah sempat diajarin ikut menumbuk lesung. Mereka bilang saya pintar, ahaha *bangga*. Kata seorang ibu, menumbuk lesung ini tidak bisa dilakukan di sembarang pesta Rambu Solo’, hanya untuk kalangan bangsawan saja.

Menunggu GIliran. Photo by Wirya
Menunggu GIliran. Photo by Wirya
Menumbuk Lesung. Photo by Wirya
Menumbuk Lesung. Photo by Wirya
Ikutan aksi. Photo by Sarsongko
Ikutan aksi. Photo by Sarsongko

—-

Postingan saya yang lain tentang Toraja bisa cek di sini, dan di sini.

Advertisements

One thought on “Mengikuti Sebagian Prosesi Rambu Solo’ di Tana Toraja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s