Mingalabar Myanmar!

Mingalabar berarti halo atau semoga diberkati, biasa digunakan untuk saling menyapa dalam bahasa Myanmar.

Penerbangan KL- Yangon dengan si maskapai merah langganan, menurut jadwal akan kami tempuh dalam waktu +- 3 jam. Euphoria akan Myanmar trip membuncah sedari masuk ke ruang tunggu keberangkatan pesawat. Tampaknya sebagian besar penumpang adalah orang Myanmar;tampak dari roman mukanya yang khas Asia Tenggara, mirip dengan orang Indonesia, sebagian ada yang berwajah India, juga ada beberapa biksu berjubah oranye.

Saatnya terbang ke Yangon, eks ibu kota Myanmar!

Iya, Yangon sudah bukan lagi ibu kota negara Myanmar lho! Sejak 2006 lalu, ibu kota Myanmar telah dipindahkan dari Yangon ke Naypidaw. Tapi Yangon tetap menjadi kota utama dengan kepadatan penduduk tertinggi se-Myanmar dan masih menjadi pusat kegiatan ekonomi dan bisnis. Akses masuk utama penerbangan internasional ke Myanmar juga tetap dari Yangon.

Saya duduk bersebelahan dengan seorang perempuan setengah baya yang katanya sudah 5 tahun kerja di KL sebagai TKM (Tenaga kerja Myanmar) tapi aksen bahasa Melayu-nya susah saya mengerti. Diajak ngomong pake bahasa Inggris juga doi nggak bisa. Kata si mbak, dia banyak berteman dengan para tenaga kerja wanita asal Indonesia. Tak heran karena menurutnya, tenaga kerja asing terbanyak di Malaysia berasal dari Indonesia, Myanmar, dan Filipina.

Si mbak (mbak, kita lupa belum kenalan huhu) juga sempat mengajari saya beberapa kosa kata dasar dalam bahasa Myanmar seperti, ‘halo’, ‘terimakasih’, ‘berapa harganya’, ‘no pork’ , dll yang pastinya akan sangat saya butuhkan karena sebagian besar orang Myanmar tidak berbicara bahasa Inggris.

———————

Kami mendarat di Yangon sekitar pukul 08.00 pagi (Waktu lokal Myanmar adalah GMT+6,5 jam atau 30 menit lebih lambat dari WIB), dan akan bertolak ke Mandalay dengan bus malam. Masih banyak waktu keliling Yangon. Yeayyy!

Yangon International Airport
Yangon International Airport
Mural di Bandara
Mural di Bandara intl Yangon. Keren ya!

Bandara Internasional Yangon ini masih baru lho, bersih dan tentunya pelayanan yang ramah pelancong itu yang pastinya harus ditiru oleh bandara- bandara di Indonesia. *mind say amin?*

Saat akan mengantri di imigrasi, seorang petugas bandara menghampiri kami. Dengan sangat ramah, ia menawarkan bantuan jikalau diperlukan. Ah, pas banget. Kami segera bertanya bagaimana caranya menuju Aung Mingalar Bus Station. Dia bilang cuma ada taksi karena tidak ada lagi trayek bus dari bandara ke terminal bus. Kemudian, ia membekali kami dengan tulisan ‘Aung Mingalar Bus Station’ dalam tulisan Myanmar yang keriting2 itu. Skenarionya, jika kami terjebak lost in translation tinggal tunjukkan saja tulisan itu, all is well. 🙂

Bandara Intl Yangon
Antrian Imigrasi di Bandara Intl Yangon – Biksu masuk di antrian diplomat lho!

Sebelum meninggalkan bandara, kami menukarkan  uang saku dari USD ke MMK (Myanmar Kyat), kurs saat itu 992 kyat/ USD. Oiya, kalau tukar di bandara uang USD yang kita tukarkan harus bersih, gak boleh ada noda, lipatan, apalagi sobek. Ada barengan saya tukar uang, ada sedikitttt coretan bolpen warna pink, langsung ditolak.

Mata uang Myanmar Kyat
Tukar USD nya harus mulus lusss, tapi dapat kyat nya lecek begini. Sungguh, terlalu!

Selain di bandara, kita bisa tukar uang di Bogyoke Aung San Market. Ini adalah pasar utama di Yangon, menjual berbagai kebutuhan masyarakat sehari- hari sekaligus berbagai jenis souvenir bagi para pelancong. Tukar uang di Bogyoke Aung San Market aturannya lebih manusiawi. Beberapa Money changer masih menerima uang dengan keadaan yang ‘kurang sempurna’ walaupun ratenya dikurangi sedikit.

——————————————

Urusan imigrasi selesai. Tukar uang sudah. Saatnya menuju ke Aung MIngalar Bus Station untuk mencari bus ke Mandalay. Huraaay!

Baru saja keluar pintu bandara, ternyata sudah ada banyak kejutan menanti. Berita yang mengatakan bahwa sebagian besar orang Myanmar masih memakai sarung atau longyi ternyata benar ! Lelaki, perempuan, tua muda, pekerja kantoran, anak sekolah sampai supir taksi semuanya memakai longyi! Hihihi, agak aneh ya awal- awalnya melihat orang kemana- mana pakai sarung. Gegara liat orang – orang memakai longyi, saya malah jadi sibuk mencari motif mana yang bagus untuk dibeli nanti. Hehehe. Keren ya orang- orang Myanmar ini masih setia pada tradisi leluhur mereka dengan mengenakan pakaian tradisional mereka sehari- hari.

Longyi
Warga lokal memakai longyi/ sarung tenun khas Myanmar

Kejutan kedua. Banyak mobil keluaran baru di Yangon. Taksi kami saja mobil masih baru, kinclong. Jadi yang bilang mobil- mobil di Myanmar itu mobil lawas, serupa besi rongsok berjalan itu gak sepenuhnya benar. Mobil- mobi lawas biasanya untuk bus umum dalam kota yang memang kondisinya memprihatinkan. Mobil keluaran terbaru sudah mulai masuk seiring  kebijakan pemerintah Myanmar untuk lebih terbuka dalam dunia internasional termasuk ekonomi dan perdagangan tentunya, sehingga arus produk impor juga mulai kencang.

Kejutan ketiga. Setir mobil ada di kanan (ada juga yang dikiri, tapi jarang sekali), tapi nyetirnya juga di jalur kanan. Nah, jadi menit- menit awal di dalam taksi rasanya seperti mau ditabrak kendaraan dari arah depan. Hiiiiii. Apalagi jalan dari bandara menuju kota lebar, mulus dan sepi (baru selesai bangun jalan) jadi ya gak afdol kalau gak ngebut.

Mobil
Mobil keluaran terbaru, dengan latar bangunan lama. kontras!

Kejutan keempat. Orang Myanmar ternyata punya cara unik dan sedikit aneh untuk memanggil seseorang, misalnya pelayan. Jadi.. (ketawa dulu), mereka manggil dengan smooching sound alias suara ciuman. Awalnya agak risih, liat bapak- bapak monyong- monyong seolah-olah mau mencium sesuatu sambil  membuat suara ‘cup-cup-cup’ ke temannya. Saya pikir hombreng atau gimana. Ternyata memang begitu cara mereka memanggil…

Kejutan kelima. Orang Myanmar ternyata hobi mengunyah sirih. Mengunyah sirih bagi orang Myanmar mungkin sudah seperti mengunyah permen. Tidak heran, sepanjang jalan sering terlihat cairan- cairan merah. Ya itu ludah orang Myanmar. Yeksss, untuk yang ini harus saya akui memang kebiasaan jorok. Hiiiiiii….

————–

Baru melangkah keluar bandara saja sudah banyak kejutan, bagaimana kalau keliling Yangon ya? Hehehe. Tunggu di postingan selanjutnya ya…*dadah dadah*

Notes:

  • Kosakata dasar Bahasa Myanmar:

Mingalabar = halo; Cezutemade= terimakasih; Belaule  = berapa (harganya); Wata  = babi

  • Taksi dari Bandara ke Aung Mingalara Bus Station kena charge 6.000 kyat, hasil nawar dari 7.000 kyat. Pesan taksi di dekat pintu keluar bandara.
Advertisements

9 thoughts on “Mingalabar Myanmar!

  1. Oh aku baru tahu ibu kotanya pindah. Seru dan salut ya orang Myanmar masih pake longyi itu. Kamu beli ngga Rosa? Terus makan apa aja waktu disana?

    Bagus posnya, informatif.

    1. Makasih mb yoyen 🙂

      Iya ak jg baru taun ibukotanya pindah waktu cari2 info Myanmar mb. Hehe.
      Orang Myanmar ini kemana- mana pakenya longyi. Jarang liat orang pakai clana bahan atau clana jeans. Mungkin saking lamanya mereka terisolasi jadinya pngaruh budaya luar belum terlalu tinggi ya. Mungkin akan lain ceritanya kalau beberapa tahun dari sekarang.

      Aku beli longyi di Amarapura, Mandalay mb, itu sentranya penenun longyi. Kualitas n motif nya bagus, harga masih terjangkau

      Klo urusan makan bisa jd satu postingan sendiri ni kyknya mb. Tunggu ya, akan diposting segera ya 😄

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s