Jalan- Jalan Keliling Pulau Selayar

Ingatan saya terbang ke sebuah ruang kelas SMP di kampung halaman, saat pak guru sejarah sedang membahas topik peradaban zaman perunggu. Katanya salah satu peninggalan zaman perunggu adalah nekara. Dan nekara terbesar yang pernah ditemukan berada di Pulau Selayar, Sulawesi Selatan.

Pelabuhan Bira
View pagi dari Pelabuhan Bira, sisi pulau Sulawesi sebelum menyebrang ke Selayar
KM Bontoharu di Pelabuhan Pamatata
KM Bontoharu di Pelabuhan Pamatata, Selayar
Masih dari Pelabuhan Pamatata, Selamat datang di Pulau Selayar!
Masih dari Pelabuhan Pamatata, Selamat datang di Pulau Selayar!

Sangat menyenangkan bagi saya untuk pada akhirnya bisa menemui berbagai hal yang beberapa tahun atau bahkan belasan tahun lalu hanya bisa saya baca buku, dengar dari pengalaman orang, atau lihat dari televisi. Selain membangkitkan kenangan akan masa kecil atau masa sekolah yang lambat laun menghilang karena terganti oleh memori yang lebih terkini, juga ada sensasi “aah, jadi ini yang dulu pernah dibahas.” Kalau sudah membuktikan dengan mata kepala sendiri rasanya memorinya lebih lekat di ingatan.

Pulau Selayar merupakan bagian dari Kabupaten Kepulauan Selayar yang terletak di selatan kaki kiri pulau Sulawesi, sekaligus menyandang status sebagai kabupaten paling selatan dari provinsi Sulsel. Bersama dengan Taman Nasional Takabonerate (yang masih berada dalam kabupaten yang sama), Selayar telah menjadi tujuan para scuba divers untuk memanjakan mata dengan kecantikan bawah lautnya.

Selain pesona bawah lautnya tersebut, belum banyak yang mengetahui bahwa Selayar juga memiliki peninggalan sejarah yang membuktikan besarnya peranan pulau yang berbentuk melintang dari utara ke selatan ini dalam kancah perdagangan nusantara di masa lalu.

Selayar memang menyimpan potensi pariwisata yang lengkap, tak melulu bawah laut tetapi juga wisata alam, budaya dan sejarah. Kalau kamu penggemar sejarah nusantara, berkeliling pulau Selayar pastilah menjadi daya tarik tersendiri.  Rasanya seperti belajar sejarah langsung pada sumbernya.

Nekara Terbesar

Mari mengulang kembali pelajaran sejarah SMP! Nekara atau gong merupakan peninggalan peradaban zaman perunggu, yang di masanya difungsikan untuk beberapa keperluan seperti untuk kepentingan politik, religius dan sosial budaya.

Konon nekara yang ada di Selayar ini merupakan nekara terbesar yang pernah ditemukan. Ia berasal dari peradaban Dong San, Vietnam dan konon katanya memiliki ‘pasangan’ dengan ukuran lebih kecil di Vietnam sana.

Nekara Selayar
         Nekara Selayar

Bagaimana nekara tersebut bisa sampai ke Selayar, terdapat 2 versi cerita, yang pertama ia dibawa oleh Sawerigading saat akan kembali ke Luwuk setelah berlayar dari Indo China. Sawerigading sendiri adalah putra raja Luwu yang menurunkan raja- raja di Sulsel. Mengenai mitos Sawerigading ini tertuang dalam naskah Sureq La Galigo. Versi kedua, nekara tersebut dibawa oleh para saudagar yang sedang transit dalam perjalanan menuju tanah rempah di Maluku sana.

Nekara berdiameter 126 cm ini memiliki beragam motif menghiasi tubuhnya, terdiri dari ukiran 16 ekor gajah, 54 burung, 11 batang pohon sirih, 18 ekor ikan, 16 arah mata angin dan 4 ekor kodok di bagian atas.

Nekara raksasa ini tersimpan dalam sebuah ruangan khusus, tetapi untuk melihatnya kita harus menghubungi penjaganya dulu karena tak setiap saat ia berada di sana. Namanya Pak Zaenudin, ia tinggal di belakang museum Tanadoang, tak jauh dari lokasi nekara atau dapat dihubungi di 085145565758.

 Museum Tanadoang

Tak jauh dari lokasi penyimpanan nekara, terdapat museum Tanadoang yang menyimpan beberapa replika kapal yang dulu digunakan sebagai alat transportasi perdagangan para saudagar.

Periuk dan mangkuk berbagai ukuran juga tersimpan rapi bersama kepingan uang logam dengan ukiran aksara China. Benda- benda tersebut sebagian ditemukan di bawah laut dan dipercaya berasal dari kapal saudagar China yang karam di dekat perairan Selayar. Juga terdapat sepasang manekin dengan busana khas Selayar.

Busana Khas Selayar, Museum Tanadoang
Busana Khas Selayar, Museum Tanadoang

Jangkar Raksasa

Masih ada lagi bukti bahwa Selayar pernah menjadi jalur utama pelayaran perdagangan di masa lampau, yaitu dua buah jangkar berukuran raksasa yang tersimpan bersama beberapa meriam kuno, di sebuah rumah di kampung Padang, beberapa kilometer dari kota Benteng.

Jangkar raksasa di Kampung Padang, Pulau Selayar
Jangkar raksasa di Kampung Padang, Pulau Selayar

Menurut literatur yang terpampang di ruang penyimpanan, meriam tersebut milik seorang saudagar keturunan China yang berasal dari Gowa, bernama Baba Desan pada sekitar abad 17-18. Konon Baba Desan sedang mencari perairan baru untuk mencari hasil laut seperti ikan dan teripang, sehingga Baba Desan datang menggunakan kapal dagang yang dilengkapi persenjataan termasuk meriam- meriam tersebut.

Sedangkan jangkar raksasa merupakan peninggalan Gowa Liong Hui pada akhir abad 17, seorang saudagar China yang berlayar dengan kapal dagangnya yang super besar. Suatu saat jangkar tersebut rusak sehingga tak lagi digunakan dan disimpan oleh penduduk setempat.

Ramainya aktivitas pelayaran di kampung Padang beberapa abad lalu juga menghasilkan perkawinan campur antara penduduk lokal dengan para saudagar China dan saudagar lainnya yang kebetulan singgah, satu diantaranya adalah Ince Abdul Rahim seorang saudagar asal Minangkabau. Tak heran, di kampung Padang sering ditemui wajah- wajah oriental khas dengan mata sipitnya, termasuk Evi- keponakan pak Haji pemiliki homestay Lantigiang tempat saya menginap.

Perkampungan Tua Bitombang

Perkampungan Tua Bitombang terletak agak jauh dari perkampungan warga di kota Benteng, untuk mencapainya harus melewati jalanan menanjak dengan barisan pohon kenari dan jambu mete di sepanjang jalan. Yap, sebagian besar warga desa ini memang hidup dari berkebun kenari, jambu mete, dan kemiri.

Rumah Tua di Perkampungan Tua Bitombang
Rumah Tua di Perkampungan Tua Bitombang
 Perkampungan Tua Bitombang
Perkampungan Tua Bitombang

Tiba di gerbang kampung, terlihat tulisan “Perkampungan Tua Bitombang” tertulis di atas batu. Masuk ke dalam kampung, terlihat deretan rumah yang memang dibangun di tepi jurang dengan disangga beberapa batang kayu. Kontur alam di perkampungan Bitombang tidak merata sehingga rumah yang dibangun harus disangga oleh tiang- tiang panjang yang terbuat dari kayu bitti atau penduduk setempat menyebutnya kayu holasa. Tiang penyangganya pun tidak semuanya berukuran panjang yang sama melainkan disesuaikan dengan topografi tanahnya yang kadang tidak rata. Sebagian rumah sudah berusia lebih dari seratus tahun tapi masih kokoh berdiri dan masih ditinggali. Satu lagi bukti bahwa nenek moyang kita merupakan arsitek handal!

Goa Alam Tajuiya

Goa yang berada di Kampung Tajuiya, desa Bungaya ini didalamnya terdapat sumur yang menjadi sumber air warga sekitar. Sebelum dibangun pipa untuk menyalurkan air, banyak warga yang turun ke goa untuk mandi dan mencuci, tak heran sampah  bungkus sabun dan sampo banyak tertinggal di dasar goa.

Di dalam goa Tajuiya
Di dalam goa Tajuiya
Fossil kima di dalam Goa Tajuiya
Fossil kima di dalam Goa Tajuiya

Menariknya lagi, di dalam goa ini terdapat sebuah fosil kima berukuran sangat besar. Bisa jadi goa ini dulunya adalah dasar laut, mengingat letak gua ini juga tidak terlalu jauh dari pantai.

 Kampung Penyu

Seperti kebanyakan tempat lain di Indonesia, penyu sering menjadi tangkapan favorit nelayan karena permintaan telur dan daging penyu ternyata masih cukup besar di masyarakat, termasuk di pulau Selayar.

Tapi itu cerita lalu, saat ini Selayar patut berbangga diri karena warga tak lagi mengkonsumsi penyu. Saat ini sebuah kampung Penyu didirikan untuk melestarikan hewan langka tersebut. Warga yang menemukan telur penyu bisa menjual telur tersebut kepada pengelola kampung penyu dengan harga lebih tinggi. Dan kita pun bisa berpartisipasi dengan cara mengadopsi tukik (anak penyu). Mengadopsi disini artinya kita membayar atau memberikan sejumlah donasi untuk setiap ekor tukik. Nah, tukik yang telah kita adopsi tersebut bisa kita lepas ke pantai. Keren ya idenya, jadi pelestarian penyu tersebut juga melibatkan para pelancong yang datang ke Selayar.

 Saat saya datang akhir Desember lalu, tukik- tukik tersebut baru saja dilepas saat ada upacara hari jadi Selayar bulan November.

Kampung Pandai Besi Sariahang

Di jalan poros dari pelabuhan Pamatata menuju kota Benteng, terdapat beberapa pondok di tepi pantai tempat para pandai besi asal Kampung Sariahang, Desa Bungaiya Kec. Bontomatene menempa besi menjadi parang.

Kampung Pandai Besi Sariahang, Selayar
Kampung Pandai Besi Sariahang, Selayar

Dua orang kakek bergantian menempa besi yang baru dipanaskan sehingga masih terlihat bara apinya menyala merah. Sementara seorang lagi bertugas mengatur api untuk memanaskan besi yang sedang ditempa tersebut. Dalam satu hari mereka bisa membuat hingga 12 buah parang yang dijual di sekitar Selayar, dan kadang sampai ke Nusa Tenggara.

Pandai besi senior dari Kampung Sariahang
Pandai besi senior dari Kampung Sariahang

Para pandai besi umumnya telah berusia lanjut, generasi mudanya kebanyakan tak mau meneruskan profesi tersebut dan lebih memilih pekerjaan lain yang mungkin menurut mereka lebih bergengsi dan menjanjikan secara finansial.

Sunset di Pantai Baloiya

Setelah kesana kemari berkeliling Selayar, saatnya menutup hari dengan yang indah- indah. Pantai Baloiya sepertinya menjadi tempat yang paling direkomendasikan oleh penduduk lokal untuk menunggu matahari terbenam.

Sesaat setelah matahari terbenam di Pantai Baloiya
Sesaat setelah matahari terbenam di Pantai Baloiya

Sayangnya, saya datang saat musim barat sehingga ombak menderu- deru kencang. Tapi tak mengalahkan pesona matahari sore yang perlahan mulai surut, lengkap dengan awan yang berarak diatasnya. Favorit!

Selain tempat- tempat diatas yang sudah saya kunjungi, masih ada beberapa tempat lain yang bisa dikunjungi seperti masjid tua Gantarang, wisata agro kebun jeruk, dan banyak pantai di sisi barat dan timur seperti pantai Pabadillang, Rampang-Rampangan,Talloiya, Pantai Je’neiya, Liang Kareta, Liang Tarusu, dll. Karena saya datang saat musim barat maka pantai di sisi barat yang notabene dekat dengan kota Benteng tempat saya menginap sedang kurang bagus untuk dikunjungi karena ombak besar, mau ke pantai timur kok ya jauh, jadi kali ini saya tidak banyak main di pantai 🙂

Pantai Rampang- Rampangan
Pantai Rampang- Rampangan

Nah, beruntungnya saya ketika datang, pak Haji pemilik penginapan sedang menggelar hajat sunatan dan perayaan maulid. Uniknya setelah ritual baca barzanji (doa dalam bahasa Arab), hiburannya adalah organ tunggal semalam suntuk. Kata bu Haji, ibu- ibu dharma wanita wajib punya keahlian menyanyi, kalau tidak bisa kena denda. Pantes pada ikhlas banget disuruh nyanyi, malah minta tambah lagu. Huahaha.

Ritual Barzanji
                            Ritual Barzanji
Mural di Kafe Tempat Biasa, sebelah Homestay Lantigiang tempat saya menginap
Mural di Kafe Tempat Biasa, sebelah Homestay Lantigiang tempat saya menginap

Untuk update info terkini tentang pariwisata bisa bertanya kepada teman-teman di @VisitSelayar yang aktif mempromosikan pariwisata Selayar. Selamat jalan- jalan ke Selayar 🙂

 Notes:

  1. Akses ke Selayar ada beberapa cara: Yg paling ramah kantong adalah naik bus atau travel dari Makassar sampai kota Benteng, ibu kota kab. Selayar (tiket sudah termasuk tiket ferry); yang kedua yang lebih hemat waktu adalah dengan penerbangan Makassar- Selayar dengan Wings Air dan SMAC bisa cek di web maskapai; yang ketiga kalau perginya rame2 bisa lebih asik kalau sewa mobil.

Bus yg melayani jurusan Makassar- Selayar PP antara lain: bus Aneka (telp 0411-5048232) jadwal Makassar- Selayar         berangkat jam 1pagi (tiket Rp. 170ribu) dan jam 9 pagi (tiket Rp.150ribu), jadwal Selayar- Makassar berangkat jam             4 pagi dan jam 9 siang. Ferry KM Bontoharu dari pelabuhan Bira (sisi pulau Sulawesi) brangkat jam 08.30 dan 16.30          dan dari pelabuhan Pamatata (sisi Selayar) jam 06.00 dan 10.30. Tapi, keberangkatan ferry tergantung kepada cuaca        dan pasang- surut air ya, jadi sabar- sabarlah menunggu 🙂

  1. Ada beberapa penginapan di Selayar seperti Selayar Beach Resort, Tinabo Dive Centre Homestay, Penginapan Erni, Homestay Lantigiang, dll. Saya stay di Homestay Lantigiang yang dikelola oleh Pak Haji dan Bu Haji yang baeeek banget. I fully reccomend this homestay for your stay. Tempatnya bersih, suasananya homey, plus pak haji n bu hajinya baik banget, termasuk jd trip advisor hari ini sebaiknya mau kemana berdasarkan pantauan cuaca dan arah angin (ini penting banget kalau lagi di pulau). Jadi berasa liburan di rumah nenek deh. Haha. Dan lagi, ada kafe Tempat Biasa (TEBE) di sebelah rumah persis yang sering jadi tempat nongkrong para divers di Selayar. Cocoklah sekalian kalau mau bikin planning diving.
  1. Urusan makan di Selayar gak susah kok. Pilihan makanannya lumayan banyak. Khasnya Selayar adalah nasi santan dan ikan bakar ditemani sambal belimbing (sambal kacang yang diberi irisan belimbing wuluh), ada juga masakan Jawa seperti bakso, nasi goreng, mi ayam, lalapan, sate, dll.
Advertisements

33 thoughts on “Jalan- Jalan Keliling Pulau Selayar

      1. mikael udah molor sedari tadi, emaknya lagi bayar utang ama temen- temen blogger buat ngebw nih, lama gak bw toh :*
        Aku pengen ikut kamuuuu, liburan teruuus !

    1. Hahaha teteeeh.. Kirain ak doang yg suka salah baca. Tulisan apa kebacanya apa, kok kalimatnya aneh. dibaca2 lg baru ngeh trnyt salah baca 😂😂 nekara ini dulu dibunyikan spt gong teh

  1. Aku be;um pernah ke Selanyar? 😦
    Trus pas td awal2 bahas soal Nekara, langsung muter otak mengingat2 nekara itu apa dan gimana

    1. Selayar mbak dian, hihihi klo ejaan lamanya kyknya Salajar krn di folder poto hp ku ketulisnha Salajar hihihi

      Itu lho mba yg fotonya begitu, dipakenya dipukul kayak gong. Brhubung ak dulu suka sejarah jd inget deh hihihi

      1. Duh, iya, typo banget ya Sa.
        Selayar
        #tepokjidat

        *menunggu catatan perjalanan Rosa yang lain*

      1. Emg dimana sih kaz? Ak kirain ttp di bdg 🙂

        Yoi, bandung uda dibucketlist 2015 kok. Ntr ajakin ak ngebolang sambil jajan2 enak di bandung yak neng geulis hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s