Selamat Pagi dari Kelimutu!

Menyapa Pagi di Kelimutu

Sesaat setelah sunrise di Kelimutu
Sesaat setelah sunrise di Kelimutu

“Saya Matius. Mari ikut saya. Kita berjalan pelan- pelan saja,” ajaknya dengan ramah sembari tangannya menyandang dua tas berisi termos air dan beberapa renteng kopi sachet dan sereal instan. Ia tampak begitu bersimpati ketika tahu saya datang sendirian.

Malam sebelumnya saya tidur dengan perasaan berdebar- debar. Besok subuh saya akan berangkat menjemput sunrise yang telah melegenda di Danau Kelimutu. Yang akrab dengan masa kecil saya karena tergambar jelas di uang lima ribuan. Masih seperti mimpi, pelan- pelan tempat yang dulu hanya saya lihat di gambar atau televisi mulai bisa saya datangi.

Pukul 04.00 pagi, seorang pemuda lokal desa Moni sudah siap mengantar saya dengan motor bututnya menembus pagi yang masih gelap pekat menuju Danau Kelimutu.

Hampir 30 menit perjalanan melewati jalanan berkelok- kelok dan naik turun, menembus hutan membuat mesin sepeda motor si Eja harus bekerja ekstra keras. Saya memanggilnya Eja, katanya itu sapaan untuk lelaki dalam bahasa Lio atau bahasa daerah yang digunakan oleh warga di Ende (desa Moni masuk dalam wilayah Ende). Mungkin seperti ‘mas’ kalau dalam bahasa Jawa.

Langit pagi yang masih gelap menyisakan kerlap- kerlip di kejauhan. Posisi di ketinggian dan polusi cahaya yang masih sangat minim membuat cahaya bintang menjadi sangat terang. Para pemburu milky way pastilah bahagia berada di tempat ini.

Tak lama kemudian saya sudah mengekor di belakang om Matius. Pria setengah baya yang mencari rejeki dari berdagang kopi panas untuk para pelancong yang memburu sunrise Kelimutu seperti saya kala itu.

“Bilang saja kalau capek. Kita istirahat dulu”, ujarnya setelah hampir 10 menit berjalan. Rupanya ia sadar saya mulai terengah- engah mencoba menyamai langkahnya. Udara tipis, cahaya minim dan jalan menanjak memang menjadi ujian tersendiri buat saya.

Stairway to Heaven
Stairway to Heaven

Om Matius begitu sabar menunggu saya. Padahal mungkin di atas sana sudah banyak pelancong lain yang menantikan seduhan kopi panas om Matius. Dia bahkan masih saja mengajak saya ngobrol sambil menapaki tangga menuju kawah danau Kelimutu, katanya supaya tidak terasa capek berjalan.

“Saya duduk di sini. Nanti kalau mau turun bisa bersama-sama lagi. Saya akan tunggu,” om Matius menunjuk sebuah pojokan tempatnya menggelar dagangannya. Fajar sudah mulai menyingsing, om Matius mulai merapikan beberapa lembar kain khas Flores, beberapa sachet kopi dan duduk siaga menanti pelancong yang butuh kehangatan dari termos kopinya.

Kain Tenun khas Kelimutu
Kain Tenun khas Kelimutu

Saya kemudian mulai mencari lokasi paling sempurna untuk menyaksikan pertunjukan yang melegenda, sunrise di Kelimutu. Tampak beberapa kelompok turis bule juga asyik memasang perangkat kameranya, beberapa lagi duduk termenung mungkin sedang berkontemplasi, dan sepasang turis bule berwajah latin sedang asyik berpelukan. *yang lain ngontrak sist*

Menit berlalu, kabut masih menggelayut. Kami belum begitu beruntung pagi itu karena matahari terbit tertutup kabut. Tapi pesona Kelimutu tetap magis, membuat kami setia memandangnya pagi itu. Kami mulai mengambil foto dan video dari berbagai sisi, seolah tak ingin melewatkan setiap detik pagi di atas sana.

Tiwu Nuwa Muri Koo Fai dan Tiwu Ata Polo
Danau Kalimutu : Tiwu Nuwa Muri Koo Fai dan Tiwu Ata Polo

“Hai mbak. Tas nya bagus deh,” seorang gadis manis menyapa, mengagumi tas ransel yang saya pakai. Saya sedikit kaget, lalu menyadari bahwa ia mengenakan tas yang sama dengan yang saya gunakan!

“Makasih mbak, saya suka sekali tas ini. saya beli online dari Bali, bahannya dari kain tenun, Emm, eh tas kita sama ya,” jawab saya sekenanya.

“Kenalkan mbak, ini Prika. Dia lho yang mendesain tas yang mbak pakai,” saya makin terkejut mendengar pertanyaannya. What a surprise!!! Mungkin ini yang namanya berjodoh. Kejadian tadi pasti bukan kebetulan, ada campur tangan Tuhan di sini.

Lalu kami melanjutkan obrolan sambil berfoto- foto. Rupanya mereka sekelompok anak muda dari Bali yang sedang melakukan overland trip Flores. Salah satunya bernama Prika, sang pemilik bag labelManikan” yang mengusung kain tenun Endek khas Bali sebagai material utama tas yang mereka produksi. Tak lama kemudian mereka pamit karena harus segera melanjutkan perjalanan ke Ende.

Prika dan rombongannya dari Bali
Prika dan rombongannya dari Bali

Kabut mulai turun lagi, dan terdengar suara bergemuruh, tanda sebentar lagi akan turun hujan. Saya kembali menghampiri om Matius. Tak banyak rupiah masuk kantongnya pagi itu. Hanya sekitar 20an pelancong saja yang naik Kelimutu pagi itu. Katanya musim ramai turis mungkin baru mulai bulan Mei atau Juni. Om Matius mulai memberesi dagangannya dan kami bergegas turun.

Om Matius dan lapaknya
Om Matius dan lapaknya

“Indah ya matahari terbit tadi. Saya senang orang- orang dari jauh datang ke mari,” om Matius memecah kesunyian saat kami berdua mulai berjalan turun.

“Yang berwarna biru tadi bernama Tiwu Nuwa Muri Koo Fai, itu tempat berkumpul arwah orang- orang muda. Yang di tengah berwarna merah itu namanya Tiwu Ata Polo, tempat berkumpulnya arwah orang yang saat hidupnya melakukan kejahatan. Dan yang warna putih itu Tiwu Ata Mbupu, tempat arwah orang tua yang telah meninggal. Warna danau tadi bisa berubah- ubah. Mungkin kalau ke sini lagi, warnanya tidak seperti tadi, ” Ia mendadak menjadi guide pribadi saya dengan menerangkan legenda danau Kelimutu. Sampai sekarang saya masih geli mengingat aksennya yang terdengar seperti orang Jepang yang sedang belajar bahasa Indonesia.

Perjalanan turun terasa lebih ringan dengan pemandangan hijau menyegarkan mata di depan kami. Udara dingin tak lagi menusuk tulang, menghangat dengan obrolan kami sepanjang jalan.

Vegetasi khas pegunungan di Kelimutu
Vegetasi khas pegunungan di Kelimutu

“Saya baru beberapa tahun kembali ke Moni. Sebelumnya saya kerja di Malaysia,” om Matius mulai bercerita tentang perjalanan hidupnya. Pria irit senyum ini mungkin satu dari jutaan warga Indonesia yang terpaksa pergi jauh dari kampungnya untuk mencari rejeki di negeri jiran sana.

“Saya beruntung punya tuan yang baik. Saya tidak pernah mendapat perlakuan tidak baik seperti yang ada di berita televise walaupun pekerjaan memang berat. Tapi sekarang saya lebih senang. Walaupun uang sedikit tapi saya dekat keluarga. Saya ada di kampung. Setiap hari bisa bertemu anak dan istri. Setiap hari bisa bertemu orang- orang dari banyak tempat, seperti mbak hari ini,” saya tersenyum mendengar ceritanya. Pasti bukan pilihan mudah baginya, batin saya. Saya juga pernah berada di situasi (hampir) seperti om Matius, walaupun kondisi saya tentulah jauh lebih baik.

Ia tampak sederhana, sesederhana pemikirannya tentang hidup dan pengharapannya. Sorot matanya tampak damai dan tulus. Ia bahkan tak mengeluh saat pagi itu cuma beberapa lembar ribuan saja masuk kantongnya. Tak sebanding jika dibandingkan dengan usahanya harus bangun dini hari, berjalan kaki sambil membawa barang dagangannya yang pastilah tidak ringan, menembus gelap dan udara dingin. Mungkin uangnya cuma cukup untuk biaya hidup beberapa hari ke depan.

We don’t meet people by accident. They are meant to cross our path for some reasons.

Ah, Om Matius, darimu saya belajar lebih bersyukur. Lebih menikmati hal- hal yang telah saya miliki, menyederhanakan masalah. Orang- orang seperti om Matius inilah yang mengajarkan saya untuk tetap ‘menginjak bumi’. Saat melakukan perjalanan, kita menjumpai kehidupan orang lain yang berbeda dengan kita. Dari situ kita menyadari bahwa pada beberapa (banyak) hal, hidup kita masih jauh lebih mudah dari mereka. Maka, berbahagialah!

Selamat Pagi dari Kelimutu!
Selamat Pagi dari Kelimutu!

I’m never gonna look back, I’m never gonna give it up

Please don’t wake me up, This is gonna be the best day of my lifeee….

(Best day of my life – American Authors)

Advertisements

20 thoughts on “Menyapa Pagi di Kelimutu

  1. Bagus posnya Rosa. Kebetulan yang mungkin bukan kebetulan ketemu dengan beberapa orang disitu?

    Dan itu foto terakhir si om Matius? Dia telanjang kaki apa ngga dingin ya?

    1. Iya mb ktmu sm prika dan rombongan nya, dan ada yg pake tas nya persis plek kyk punyaku. Saat itu tas manikan blm trll populer, jd agak kaget jg sih kok bisa nemu kembaran. Eh trnyt mlh yg bikin 😄

      Iya mrk cuma pake sendal jepit aja tuh, itu juga suka dilepas2. Uda biasa kali ya. Td yg pasti, sarung flores nya g pnh lepas 😊

  2. Keren keren kereeeenn

    Aku selalu suka keramahan dan kehangatan sikap dari orang2 sana. Jadi terharu kalau ngobrol dengan mereka.

    Btw, gimana rasanya keetemu disainer dari tas yang dipakai?

    1. Hihihi. Sama mbak.. Aplg klo mlh mrk yg trimakasih krn kita mau jauh2 dtg k tmpt mrk

      Rasanya emejing, speechless gt mbak. Ak emg suka dan bangga sih pake tas manikan itu. Udah cantik, pake tenun, local product.. Ak cinta produksi indonesia deh *nyanyi*

    1. Pas itu ada bbrp mbak yg jualan, ada mama2 juga. Mknya saingan byk, pngunjungnya dikit. Kasian..

      Wah, pas mb noni ksana lg g bgus y?
      Pdhl ini cerahnya cm bntr, sisanya turun kabut lg

  3. Ah, senyum tulus Om Matius begitu terpancar. Betapa baik hatinya dia, saya berdoa semoga hidupnya selalu penuh berkat dari Yang Maha Kuasa. Tuhan selalu bersama orang-orang yang baik :)).
    Keren sekali! Membaca postingan ini sangat menghangatkan hati, sebagai pengingat untuk, seperti kata Mbak, tetap “menginjak bumi”. Dalam kesederhanaan seorang Om Matius kita belajar untuk tetap sederhana tapi tetap memberi makna bagi orang yang kita temui. Salut!

    Kelimutunya indah banget… kabutnya magis tapi bermandi cahaya matahari pagi yang sangat murni menjadikan pemandangan tiga kawah itu nampak sangat cerah. Ah, mesti meluangkan waktu untuk tandang ke sana :hehe.

  4. Hai, Rosa.. Pertama kali komentar nih di blogmu.. Tulisanmu bagus sekali..👍🏼 Gaya penulisannya personal/romantis tapi tidak lebay.. Objek wisata dan fotonya juga keren..👍🏼 Sudah pernah kirim tulisan seperti ini ke media cetak.., atau kepikiran buat bikin buku? Kalo belum, mungkin bisa dipertimbangkan..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s