Kain nusantara

Ceritaku tentang Kain Nusantara

Jika ada tempat yang selalu ingin saya datangi saat pergi ke suatu kota, maka keduanya adalah pasar tradisional dan sentra kain tradisional. Jalan- jalan ke pasar tradisional bagi saya adalah hal yang membahagiakan, karena di pasar saya bisa menjumpai aneka sayuran dan buah segar berwarna- warni, mendengar orang lokal beradu percakapan dengan dialek khasnya, membaui segala macam bahan lokal dan bumbu yang mungkin tak ada di tempat asal saya, dan tentunya icip- icip jajanan pasar. Happiness in modesty, indeed.

Lain lagi dengan kain. Entah sejak kapan tepatnya saya mulai tertarik dengan kain- kain khas nusantara. Yang pasti sejak saya mulai hobi jalan- jalan, bayangan akan ketemu dengan kain- kain khasnya merupakan hal yang membuat saya makin tak sabar untuk segera berangkat.

Kain Nusantara
Di Lemo, Tana Toraja dengan Tenun Ikat Troso, Jepara
Kain Nusantara
Menggunakan Kain Bugis buatan Sengkang saat Perayaan Cap Gomeh di Makassar

Sebagai orang Jawa asli, saya tentulah sangat familiar dengan kain batik. Simbah putri saya bahkan sehari- hari masih memakai kain jarik dan kebaya sampai beliau sudah tak bisa lagi berjalan sehingga simbah terpaksa menggantinya dengan rok/ celana panjang supaya lebih praktis.

Saya ingat sekali, pada Oktober 2009 dalam rangka Dies Natalis UGM diselenggarakan pameran batik dan kursus membatik di Graha Sabha Pramana. Pameran tersebut menjadi ajang untuk mengenalkan aneka kerajinan batik di nusantara. Saya pun mengikuti kursus satu hari membatik, mulai dari menggambar sketsa di kain polos, membatik dengan malam dan canting hingga, viola jadilah kain batik buatan saya! Tidak besar memang, hanya seukuran sapu tangan. Tetapi namanya hasil karya sendiri itu puasnya berlipat- lipat kan.

Batik merupakan bukti keagungan budaya leluhur kita. Bukan hanya karena motifnya yang cantik, atau warnanya yang menarik, tetapi dalam setiap motif batik tersebut menyimpan filosofi agung dari sang penciptanya. Misalkan saja, motif Parang yang merupakan motif dasar paling tua ini mengandung makna petuah untuk tidak pernah menyerah. Ada juga motif Parang Rusak Barong yang hanya boleh dikenakan oleh Raja dikarenakan kesakralan makna filosofi dalam motifnya.

Kain Nusantara
5 Tahun lalu, di Matsuyama Castle, Ehime Pref, dengan batik motif Mega Mendung Cirebon.

Saya pernah ditegur oleh ibu saya ketika bongkar- bongkar lemari dan menemukan sebuah kain batik lawas yang langsung saya minta untuk dijahit. Kata ibu, kain jarik bermotif Sidomukti itu hanya boleh digunakan saat melangsungkan pernikahan saja. Ups. Maaf buk, ini bukan kode. Hehe. Ya, kain inilah yang ibu pakai saat mengawali biduk rumah tangga dengan bapak saya.

Selain motif- motif yang menyiratkan petuah dalam kehidupan, ada pula motif- motif yang menggambarkan keindahan. Motif batik Sirikit dari Kebumen misalnya, terinspirasi oleh kecantikan ratu Sirikit dari Thailand ini mewakili kecantikan aneka ragam flora dalam warna- warna lembut.

Kain Nusantara
Celana tenun bukan kostum yang tepat buat pose yoga. But, I did it! *untung nggak sobek *
di Mingun Pagoda, Mandalay- Myanmar
Kain Nusantara
Cheers! di Universal Studio, Singapore

Saya mulai berkenalan dengan kain tenun sejak sekitar tahun 2010 ketika saya ke Bali. Saat itu sebagai mahasiswa tingkat akhir saya baru mampu membeli tas model tote bag dari kain tenun yang jadi favorit sampai tas tersebut jebol.

Sejak saat itu saya makin menggilai kecantikan dan kedalaman filosofis kain- kain nusantara. Tidak lengkap rasanya jika datang ke sebuah kota tanpa mencari tahu kain khasnya. Awal 2013, saya mulai mengoleksi berbagai motif kain tenun yang sebagian saya jahit menjadi celana panjang, kebanyakan berasal dari kain tenun troso Jepara dan tenun Lombok. Lama- kelamaan di mata teman – teman, terbentuklah signature style saya dengan celana tenun ikat.

Ada sebuah kejadian unik saat trip ke Danau Kelimutu, saya memakai bucketbag dengan material kain tenun Endek khas Bali dari sebuah brand lokal bernama Manikan. Saya bertemu sekelompok anak muda dari Bali yang sedang melakukan overland trip Flores. Salah satunya bernama Prika, yang ternyata salah satu pemilik Manikan! What a coincidence. Saya bertemu dengan desainer tas favorit saya, secara kebetulan di tempat yang tak terduga. (ceritanya pernah saya tulis disini)

Kain Nusantara
Signature style ala Rosa di Danau Kelimutu-Flores
Kain Nusantara
Syal tenun Flores ini selain berguna untuk slayer juga makin mempermanis foto ya kan. Di Gunung Bulusaraung, Sulsel

Selain digunakan untuk pakaian atau hiasan di rumah, saya juga menggunakan kain batik sebagai kartu pos. Ada beberapa toko souvenir di Jogja dan Lombok yang menjual kartu pos dari kain batik. Saya juga pernah membuat sendiri kartu pos dari kain batik motif Toraja, sekalian mengenalkan kepada penerima kartu pos yang kebanyakan orang asing tentang ragam budaya asli Indonesia.

Kain Nusantara
Kartu pos buatan sendiri dari kain batik motif Toraja

Satu lagi produk yang dibuat dengan teknik membatik yang masih menjadi favorit saya sampai saat ini adalah peta Indonesia seperti di bawah ini. Peta batik ini saya dapatkan di sebuah toko batik di Jalan Malioboro, dan pernah pula saya hadiahkan kepada Profesor saat exchange ke Jepang. Betapa bahagianya beliau  yang memang fans berat batik, bahkan sehari – hari beliau senang memakai tas, sandal, baju batik dari Yogyakarta. Bangga kan!

Kain Nusantara
Batik dengan motif Peta Indonesia. Bisa jadi alternatif oleh- oleh nih!

Tinggal di Makassar membuat saya menjadi makin familiar dengan kain tenun. Sengkang dan Toraja merupakan dua sentra kain tenun dari Sulsel. Keduanya memiliki kekhasan masing- masing. Kain tenun Sengkang handal dengan bahan sutra dan motif garis yang sejak dahulu telah digunakan untuk acara- acara adat Bugis (catatan tentang tenun sengkang pernah saya tulis disini). Sedangkan kain tenun Toraja khas dengan motif tedong (kerbau) dan tongkonan (rumah adat) menggambarkan kehidupan masyarakat Toraja dalam keseharian.

Kain Nusantara
Seorang turis asing dengan kain Toraja

Lain ceritanya saat saya mbolang ke Pulau Flores yang saya yakini menjadi surga bagi para pecinta kain tenun, karena ada banyak daerah yang memiliki sentra kain tenun di pulau ini! Jika diperhatikan motif- motif khas Flores didominasi dengan warna- warna seperti hitam, merah bata, atau biru tua. Jangan protes jika harganya di atas rata- rata. Kain tenun ini dibuat bukan dalam waktu semalam, kadang bahkan membutuhkan waktu beberapa bulan. Apalagi jika menggunakan pewarna alami dan motifnya rumit serta memiliki makna yang dalam bagi masyarakat setempat. Seorang mama di Desa Watubelapi, salah satu sentra kain tenun di kota Maumere memperlihatkan salah satu mahakaryanya, selembar kain tenun berwarna dasar biru. Motif kain tersebut menceritakan prosesi ritual pernikahan di Maumere, dimulai dengan pihak lelaki membawa kuda sedangkan pihak perempuan membawa babi kemudian diakhiri saat keduanya bersama- sama menebang pohon pisang.

Kain nusantara
Seorang mama dari Desa Watubelapi, Maumere memperlihatkan hasil karyanya

Tak jauh dari Desa Moni di Kelimutu, terletak Desa Jopu yang terkenal seperti kampung tenun. Tidak seperti daerah lain di Flores dimana para mama menenun selepas menyelesaikan pekerjaan rumah tangga. Para mama di desa Jopu menjadikan kegiatan menenun sebagai pekerjaan utamanya.

Kain Nusantara
Mama penenun sarung di tetangga desa Moni, Kelimutu
Kain Nusantara
Deretan sarung tenun dari desa Jopu, Kelimutu

Saya masih menunggu kesempatan untuk berjumpa dengan ragam kain nusantara lainnya. Kain tapis Lampung, songket Palembang, sasirangan Banjar, batik Trusmi Cirebon, batik Lasem Rembang, batik Madura, Endek Bali, Tenun Sumba, dan masih banyaakk lagi. Boleh diamini ya? Amiin… 🙂 *siapa tahu setelah ini ada yang ngajak main ke sentra perajin kain hehe*

Kain batik dan kain tenun memang cantik, tetapi bisa jadi nasibnya tak seindah motifnya. Gempuran produk tekstil murah terutama dari Tiongkok dengan batik dan tenun printing menjadi ancaman yang nyata. Bukan hanya mengancam mata pencaharian para perajin batik dan tenun, terutama yang berskala kecil, tetapi juga berpotensi merusak nilai budaya. Sebaiknya, kain- kain printing tersebut tidak disebut kain batik atau kain tenun karena tidak melibatkan proses membatik dan menenun. Mungkin lebih tepat disebut kain bermotif batik/ tenun.

Setiap orang berhak mencintai dan melestarikan budaya Indonesia dengan caranya masing- masing. Saya memilih menggunakan kain- kain nusantarauntuk acara resmi atau saat pergi jalan- jalan, dan sebisa mungkin tidak ikut menjadi konsumen kain printing bermotif batik/ tenun. Kamu juga punya caramu sendiri, bukan? Mari berpartisipasi!

“Postingan ini diikutsertakan dalam kompetisi blog #KainDanPerjalanan yang diselenggarakan Wego”

 

Advertisements

11 thoughts on “Ceritaku tentang Kain Nusantara

  1. Waaa semoga menang ya, pertama kali liat pengumuman lomba ini aku langsung inget kamu sama mbak Noni, kalian kan suka bgt sama kain tradisional 🙂

  2. menang ngga menang urusan belakangan! postingan ini kece amat sekaliii dehhh jadi wajib menang. salam kenal ya! gw juga ada kain dari pontianak, lombok, sasirangan duh mana lagi ya hasil oleh oleh kawan yang belum gw apa apain. sayang sih…bagus banget

    1. Hai mb kiky, salam kenal jugak *ngetosin kain*
      Ya kan mb..kain2 nusantara g ada matinya ya. Bikin nagih. Tp klo mau jait musti nyari penjahitnya yg cucok. Klo engga sayang kainnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s