Medali 10K Lari Candi ke Candi Prambanan

Sensasi Lari Candi ke Candi di Prambanan bersama Teh Javana

“It is very hard in the beginning to understand that the whole idea is not to beat the other runners. Eventually you learn that the competition is against the little voice inside you that wants you to quit.” –nn–

Beberapa tahun yang lalu, berlari mungkin belum menjadi pilihan lifestyle orang Indonesia, termasuk saya tentunya. Saya mah anaknya dulu nggak doyan olahraga. Zaman SMP SMA sepertinya saya masuk geng-ogah-olahraga yang kalau disuruh main basket di lapangan akan lebih memilih duduk- duduk ‘ngiyup’ (berteduh) di bawah pohon rindang sambil bergosip. Kalau zaman SMP obrolannya F4 dan Meteor Garden, maka zaman SMA beralih jadi Han Ji Eun dan Lee Young Jae nya Fullhouse. *generasi 90an*

Namun, keengganan saya berolahraga sepertinya musnah begitu saja beberapa tahun terakhir semenjak saya tinggal di Makassar. Bagaimana saya bisa jadi makhluk anti olahraga kalau di lingkungan saya isinya atlet- atlet semua. Semua olahraga dijabanin, mulai dari lari, yoga, diving/ freediving, freeletics, bahkan dulu iseng banget mau nyobain lomba perahu naga. Begitu tahu lawannya bapak- bapak- bapak TNI sangar dan berotot kemudian keder, apalagi arah perahu saja kami tak tahu. Haha.

Selain alasan dangkal di atas, saya juga mulai menyadari kok bahwa olahraga memang diperlukan untuk menjaga kebugaran tubuh, dan menjaga otak tetap waras dari beban kerjaan, cicilan KPR, ‘kapan nikah’, ‘kapan punya anak’, dan ‘kapan-kapan’ yang selanjutnya.

Saya mulai menikmati berlari dan yoga. Walaupun saat berlari, saya selalu merasa menjalani beberapa kilometer terberat dalam hidup saya. *tsaaah.

Lari Candi ke Candi
Victory pose setelah lari. haha.

Dulu saya merasa nggak akan mampu ikut- ikutan lomba lari 5K, 10K, apalagi half marathon dan full marathon. Tapi, sekali lagi pepatah kuno memang benar. Hal tersulit dalam melakukan sesuatu adalah memulainya. Dan, begitu saya sekali ikut 5K, saya pun ketagihan!

Saya selalu sadar bahwa berlari (walaupun kebanyakan jalannya sih) selama 5K atau 10K pasti akan menyiksa. Tapi, saya juga tahu bahwa rasa puas ketika mencapai garis finish itu ergghh nikmat! Rasanya puas setelah menaklukkan diri sendiri setelah menyelesaikan race yang artinya kita sudah sukses menaklukkan suara- suara sumbang dari dalam diri kita yang selalu bilang ‘Berhenti. Ngapain lari. Capek. Panas.’ Yep, running is about determination, perseverance, and endurance.

Jangan kira saya adalah pelari handal, karena saya pun belum konsisten lari. Hanya jika bisa bangun pagi dan ingat kalau jarum timbangan makin bergerak ke kanan. Hehe. Makanya performa saya ya segitu- gitu aja. Tapi, saya selalu excited untuk ikut race apalagi kalau rutenya nggak biasa seperti Lari Candi ke Candi yang diadakan oleh Teh Javana dan Koran Tempo pada 29 November lalu di kompleks Candi Prambanan.

Medali 10K Lari Candi ke Candi Prambanan
Medali 10K Lari Candi ke Candi Prambanan

Lomba lari wisata yang diklaim berhasil menembus angka 3000 peserta ini dibagi menjadi 2 kategori yaitu 10K dan 5K, sekaligus menjadi ajang promosi produk the Javana dan kampanye bertajuk ‘ManaIndonesiamu’ yang ingin mengangkat berbagai potensi budaya Indonesia agar semakin dikenal dan mendunia.

Rute yang ditempuh memang tidak biasa karena peserta diajak lari berkeliling kompleks Candi Prambanan dan kampung- kampung disekitarnya. Tak heran, sebagian besar peserta berasal dari luar Jogja yang sengaja ikut karena tergiur pesona berlari pagi di tengah sawah, perkampungan, dan pohon rindang apalagi jika ada banyak candi muncul dari balik kabut pagi.

Pagi itu saya mengambil rute 10K, dengan start dan finish line di Lapangan Brahma kami berlari keluar kompleks Prambanan ke arah perkampungan warga melewati candi Plaosan, kemudian Candi Sewu, Candi Bubrah dan Candi Lumbung. Tak jarang para peserta berhenti sejenak untuk mengambil foto selfie dan wefie dengan view yang jarang mereka temui di ibu kota. Tapi sayanya lempeng aja, ngos-ngosan dan takut kalau berhenti malah kram.

Ada 3 water station setiap 2,5 km menyediakan air mineral, teh Javana botol, dan air isotonik. Di setiap belokan/ perempatan juga ada tim marshall yang siap membantu menyebrangkan pelari ataupun sekedar memberi semangat.Alhamdulillah, masih bisa finish tanpa cidera. Cuma pegelnya aja yang awet sampai 2 hari.

Sayang, rute pagi itu kurang clear, karena di jalanan banyak sekali kendaraan masyarakat sekitar yang berlalu lalang mulai dari sepeda, sepeda motor, sampai mobil! Saya lumayan ngeri apalagi saat sampai di track jalan raya. Ngeri bok kalau kesambar motor dari belakang!

Bisa jadi karena ini merupakan event pertama lari candi ke candi sehingga masih banyak kekurangan dari sisi teknis di sana- sini. Semoga jika event ini berlanjut di tahun depan bisa lebih baik dari segi teknis, dan tentunya bisa menimbulkan efek positif bagi pariwisata Yogyakarta dan sekitarnya. Mungkin panitia bisa belajar dari penyelenggaraan Borobudur International Run yang kurang lebih juga memiliki konsep yang sama.

Jadi, kalau kamu suka lari kemana?

 

 

 

Advertisements

32 thoughts on “Sensasi Lari Candi ke Candi di Prambanan bersama Teh Javana

  1. Wah, menarik itu membayangkan lari di sekitar candi Prambanan. Tapi rutenya nggak lewat Jl. Solo toh mbak? Hanya jalan raya yang mengitari pagar candi Prambanan itu toh? Sebenernya klo keliling muterin di dalam kompleks Candi Prambanan 3 kali saja mungkin udah hampir 10 km ya jaraknya.

      1. Yg sering ngadain kumpul2 itu Komunitas Blogger Jogja mbak. Coba aja di-search di Facebook atau Google. Aku sendiri nggak begitu doyan kumpul-kumpul. Senengnya keliaran 😀

  2. Keren euy lari keliling candi, selain membuat badan jadi sehat, jadi ajang bagus banget untuk mengenalkan situs sejarah kepada para pelari, siapa tahu bakal muncul komunitas yang memasyarakatkan lari di landmark-landmark terkenal seperti ini–makin banyak yang kenal, makin banyak juga yang paham betapa berharganya mereka dan bersedia untuk menjaga. Top!

    Selamat ya Mbak sudah jadi finisher… saya kalaupun finish paling jadi yang terbelakang :haha.

  3. Pengen bisa ikutan lomba lari-larian seperti ini, cuma sayangnya ankle kaki pernah cedera, jadi cuma bisa ikutan olahraga aerobic low impact macam renanga aja deh. *malah curhat*

    Btw, menarik banget ya konsep lomba-lomba lari jaman sekarang, digabung dengan promosi wisata, budaya, dan sejarah 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s