Copenhagen Movie

Review Film: Copenhagen (2014)

Setahun belakangan ini saya makin penasaran dengan negara- negara di Eropa Utara, seperti Swedia, Norwegia, Denmark, Finlandia, dan Islandia. Akibat dari seringnya membaca postingan blog dan instagram dari para blogger yang tinggal di negara- negara tersebut, ditambah lagi tayangan berulang- ulang dari Natgeo People seperti Valentine Warner Eats Scandinavia dan Sara’s New Nordic Kitchen membuat imajinasi saya akan kehidupan di negara- negara ‘kulkas’ itu semakin nyata.

copenhagen movie1
Copenhagen poster. Pic from here

Maka, begitu saya membaca sebuah tajuk film Eropa ‘Copenhagen’ tanpa ragu segera saya masukkan dalam bucket list. ‘Copenhagen’ ternyata sebuah film indie besutan Mark Raso, dan merupakan film panjang pertamanya yang telah menyabet berbagai penghargaan di festival film internasional.

Seperti judulnya, Copenhagen merupakan film yang mengambil latar di ibukota Denmark dengan jalan cerita yang cukup sederhana, yaitu tentang perjalanan William (Gethin Anthony) seorang pemuda berusia 28 tahun dari Amerika yang ingin menuntaskan misi untuk menyampaikan surat dari almarhum ayahnya kepada kakeknya yang tinggal di Denmark.

Dalam melakukan perjalanannya, William ditemani oleh Jeremy (Sebastian Armesto) yang membawa serta kekasihnya. Namun, sikap William yang sangat menyebalkan membuat Jeremy dan kekasihnya memutuskan untuk mengakhiri perjalanan dengan William. William yang digambarkan memiliki sifat urakan, kurang dewasa dan labil pun marah, takut dan bingung bagaimana caranya ia melanjutkan perjalanan dan menuntaskan misinya sendirian di negeri antah berantah yang sangat asing.

Di tengah perjalanannya William bertemu dengan Effy (Frederikke Dahl Hansen), seorang murid SMP berusia 14 tahun yang sedang magang di sebuah hotel tempat William menginap melalui insiden klise “kopi tumpah”. Effy menumpahkan kopi di secarik kertas berisi surat ayah Will kepada kakeknya.

Long story short, Will dan Effy yang tadinya kurang cocok justru berbalik menjadi akrab. Effy, gadis cantik yang pemalu dan tertutup tetapi memiliki jiwa petualang dan penuh ide- ide liar ternyata cukup dewasa untuk seusianya. Effy justru menjadi orang yang paling semangat menemukan kakek William di saat William sendiri sudah muak karena rasa bencinya kepada sang ayah.

Copenhagen movie
View kota Copenhagen. Pic source here

Petualangan mencari asal usula William pun dimulai. Effy yang mengenal setiap sudut kota Copenhagen segera menemukan alamat kakek William tinggal yang ternyata ditinggali oleh adik kakeknya. Darinya William mendapatkan beberapa foto masa kecil ayahnya ketika masih tinggal di Copenhagen. Effy dan William napak tilas berkeliling kota ke setiap lokasi background foto ayahnya tersebut, diantaranya ke Tivoli, patung Little Mermaid, dan rumah lawas tempat ayah William kecil pernah tinggal.

William dan Effy semakin dekat dan mulai tertarik satu sama lain. Namun, perbedaan usia yang terlampau jauh (apalagi Effy masih masuk kategori usia anak- anak) membuat mereka harus berpisah. Salah satu scene paling emosional adalah ketika William harus memilih antara hasratnya untuk ‘tidur’ dengan Effy tetapi akan dicap pedofil seumur hidupnya atau menahan hasratnya demi masa depannya dan Effy, walaupun sebenarnya Effy sendiri sudah siap dengan segala konsekuensinya. Di luar dugaan, William ternyata masih rasional dan cukup perhitungan dengan segala risiko yang mungkin terjadi jika mereka jadi berhubungan badan.

Copenhagen movie
William dan Effy. Pic from here

Setelah kejadian itu, mereka berpisah dan William akhirnya berhasil menemukan sang kakek dan memberikan surat dari ayahnya. Film diakhiri dengan scene William berdiri di Skagen, sebuah tempat paling utara Denmark dimana dua lautan bertemu ,seperti kata Effy.

Secara keseluruhan saya sangat menikmati film ini yang ceritanya terasa ringan dan mengalir apalagi dengan percakapan yang fresh dan smart, seperti satu dialog berikut ini:

Effy: I wanna tell you a story. It’s about…

William : What’s going on?

Effy: Telling him a story about Skagen. It’s in the north of the country where the two oceans meet.

Jeremy: I heard of this place.  

Effy: I went there once with my mother. She was sad because her boyfriend left. And I was sad because I had a fight with my best friend. So she brought me to the end of the beach, and then she pointed to the right where the Baltic Sea is.

Jeremy : I knew that.

William: Yeah, from Risk.

Effy: So it’s a very beautiful and very blue sea. The waves travel west.

William: Current.

Effy: What?

William: Current, not waves. Current travels west, not waves.

Effy: So the current travels west, and she pointed to the left.

Jeremy: North Sea?

Effy: Yeah. Also a very beautiful blue sea, but the current travels east. And then she pointed to the middle, and she said that…that is the perfect relationship. You can look to the left, and you can look to the right, and both seas are there, and they can meet in the middle, but they never lose themselves in each other. They’re always themselves no matter what.

Jeremy: That’s beautiful.

Copenhagen tidak hanya menyajikan sebuah cerita sederhana tentang hubungan dua manusia menuju fase dewasa, tetapi juga membawa penontonnya ikut larut bertualang di dalam kota Copenhagen. Banyak sekali scene- scene ketika William dan Effy bersepeda keliling kota yang mengambil lokasi landmark Copenhagen, serta gedung- gedung tua yang colorful dan kanal sungai yang bersih. Semuanya disajikan dalam sinematografi yang menarik dan warna- warna cerah yang membuat saya tidak rela melewatkannya barang sedetik saja. It is obviously one of the best movie I’ve watched this year! Saya juga suka banget sama aktingnya Frederikke.

Jika kamu mencari film berlatar utama kehidupan kota di Eropa sekaligus drama tanpa menye- menye, maka jangan lewatkan Copenhagen.

Selamat menonton!

Copenhagen movie
Skagen, where the two oceans meet. Pic source here

 

Advertisements

8 thoughts on “Review Film: Copenhagen (2014)

  1. Film yang bagus buat promosi kota ya Mbak :hehe. Petualangan mencari terus napak tilas kan membuat banyak orang mengenal landmark Kopenhagen–terus seandainya film ini booming, nantinya akan banyak orang yang datang ke sana untuk melihat setting film ini sendiri–apalagi kalau ada ikatan emosional di dalamnya, seperti kasus Skagen itu :hehe.
    Kalau sudah nonton ini jadi pengen ke Kopenhagen :haha.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s