Kepulauan Togean

Ampana: Kita Tak Pernah Sendiri

Sejatinya manusia adalah makhluk sosial. Ia selalu tertarik untuk berinteraksi dengan orang lain, entah yang telah ia kenal atau orang yang masih asing sekalipun.

Kepulauan Togean
Pulau Papan dan Jembatan kayunya, Kep. Togean

Pukul empat sore, kami (saya dan Tasa, teman kantor sekaligus teman perjalanan kali ini) bergegas menuju pool mobil travel yang akan membawa kami dari kota Palu ke Ampana. Setelah hampir satu jam menunggu, kami dipanggil untuk naik mobil colt- semacam mobil angkot-yang katanya akan membawa kami ke terminal. Saya mengkroscek kembali ke staf travel bahwa saya bukannya mau naik bus tapi naik mobil travel.

“Memang begitu mbak. Penumpang diangkut dulu ke terminal, baru naik mobil travel dari terminal. Bagi – bagi rejeki toh,” jawab si staf travel.

Oh, begitu rupanya. Saya pun mengangguk mengiyakan dan segera duduk berjejalan dengan penumpang lain.

Sore itu kami akan menempuh perjalanan panjang dari Palu sampai ke Ampana, membelah lebatnya hutan Sulawesi Tengah di malam hari. Ampana merupakan titik terakhir sebelum kami menyeberang menuju ke Kepulauan Togean, yang orang bilang surga di Teluk Tomini.

“Dek, mau menyebrang ke Wakai ya?,” seorang ibu berjilbab bertanya ramah saat kami mengantri ikan bakar untuk makan malam. Rupanya, sekitar jam 10 malam mobil berhenti di sebuah rumah makan untuk transit makan malam dan demi membiarkan sopir istirahat sebentar.

“Iya bu. Saya mau ke Wakai, lalu ke Kadidiri,” jawabku singkat sambil memilih ikan segar dari sebuah ember besar.

Kami kemudian duduk bersama di meja makan sambil menikmati makan malam yang terlalu malam, lalu bercerita tentang rencana saya selanjutnya di Kepulauan Togean. Siapa tahu ibu ini bisa memberi masukan atas rencana yang sudah saya susun.

“Besok kita sampai di Ampana sekitar jam 3 atau 4 pagi. Kalian mau kemana dulu karena kapal masih agak siang toh?, “ tanyanya lagi dengan mimik muka penasaran. Bu Nur namanya, tinggal di Ampana dan baru saja kembali dari dinas kantor di Palu.

Saya dan Tasa kemudian saling pandang. Kami agak terkejut mendapati akan tiba sepagi itu sedangkan kapal ferry baru berangkat sekitar pukul 8. Itu juga jika ombak tenang dan cuaca mendukung.

“Rencananya ya menunggu di pelabuhan saja bu. Sambil bersih- bersih dan sarapan atau keliling- keliling pelabuhan. Hehe.”, jawabku sekenanya. Kami memang berniat menunggu di pelabuhan. Kebiasaan pergi bersama teman- teman ke daerah Indonesia timur lainnya membuat kami seolah makin terbiasa dan akrab dengan suasana dan kondisi seperti di pelabuhan.

“Aduh. Jangan dek. Ndak baik anak gadis seperti kalian pagi buta sudah di pelabuhan. Nanti orang kira apa. Lagipula kapal kan masih lama,” raut wajah Bu Nur makin khawatir, seperti tidak rela melepas kami berdua di pelabuhan di pagi buta.

“Ayo. Mari nanti ikut ibu ke rumah. Bisa tidur dulu sebentar, mandi- mandi, atau meluruskan kaki lah. Yang penting kalian ndak menunggu di pelabuhan,” tanpa meminta persetujuan kami, Bu Nur segera mengambil alih keputusan dimana kami akan menunggu kapal.

Sekitar jam 3.30 pagi, kami pun tiba di Ampana dan ngintil Bu Nur pulang ke rumahnya. Hmm, saya tidak mengira Ampana sesepi itu, bagaimana dengan pelabuhan. Beruntung kami bertemu Bu Nur. Walau hanya beberapa jam bersama, kebaikannya kepada kami yang baru ia temui sungguh menjadi pembuka yang manis dalam perjalanan kali ini.

Kepulauan Togean
Stingless Jellyfish di Mariona Lake, Kep. Togean
Kepulauan Togean
Anjing yang ikut menunggu sunset. Pulau Kadidiri, Kep. Togean

Begitulah nikmatnya melakukan perjalanan. Kita tak pernah tahu selalu ada orang baik di luar sana, selalu ada yang menerima kita dengan tangan terbuka dan tanpa prasangka. Saat itu barulah kita sadar, bahwa sesungguhnya di tempat yang jauh dan asing sekalipun, sejatinya kita tak pernah sendiri.

Advertisements

12 thoughts on “Ampana: Kita Tak Pernah Sendiri

  1. Iyah, kita tak pernah sendiri, selama kita mau membuka diri. Menurut saya di situlah seninya traveling, bagaimana ketika kita berangkat ke negeri yang jauh, kita belajar membuka diri, berinteraksi dengan sekitar kita. Mencoba membaca situasi, mengenal orang secara lebih baik, memperlakukan orang dengan lebih manusiawi. Well, saya pun belajar dari tulisan ini. Terima kasih sudah berbagi!

  2. Aaaaah Bu Nur baiknya :3 Hihihi beruntung ya mbak 😀 Setiap perjalanan kita bisa dipertemukan dengan orang yang amat baik, dan bisa juga dipertemukan dengan orang yang amat jahat. Jadi, mari kita jalan-jalan 😀

  3. Semesta mendukung kegiatan baik. Walau traveling adalah kesenangan pribadi tapi setidaknya berbagi rejeki kita dengan banyak orang. Ibu Nur adalah salah satu mestakung itu.
    Pulau Togean dan perkampungan itu cantik ya.
    salam

    1. Betul pak. Selama traveling emg saatnya buka mata n buka hati. Pasti deh kita makin byk2 bersyukur. Byk yg hidupnya lebih keras. Byk org baik yg kita temui dijalan. Makanya traveling itu adiktif ya, karena sensasinya itu yg g tergantikan 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s